Fiskal dan Kinerja Daerah (FisKaDa) menyajikan profil dan analisis kinerja fiskal pemerintah daerah, baik pada tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, berbasis data Portal SIKD. Dashboard ini dirancang untuk membantu pengguna memahami postur APBD, indikator kinerja keuangan, tren anggaran dan realisasi, serta komposisi belanja per fungsi sebagai instrumen transparansi fiskal publik dan perbandingan antarwilayah.
APBD Dipakai untuk Apa?
FisKaDa menyajikan informasi anggaran dan realisasi belanja daerah berdasarkan fungsi pemerintahan, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, perlindungan sosial, pelayanan umum, serta perumahan dan fasilitas umum. Penyajian ini membantu pengguna memahami bagaimana APBD dialokasikan dan direalisasikan pada setiap fungsi, sehingga arah penggunaan anggaran daerah dapat dibaca secara lebih ringkas, visual, dan mudah dibandingkan antarwilayah maupun antarperiode.
Identifikasi Daerah yang Perlu Perhatian
FisKaDa membantu pengguna menelusuri daerah dengan indikator fiskal tertentu, seperti ketergantungan transfer yang tinggi, kemandirian fiskal yang rendah, realisasi belanja yang belum optimal, atau komposisi belanja per fungsi yang perlu dicermati. Informasi disajikan melalui peta interaktif, tabel prioritas, dan grafik perbandingan agar pengguna dapat melihat daerah mana yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
🌐 RINGKASAN NASIONAL · —
Total Pendapatan Daerah
—
Total Belanja Daerah
—
Pendapatan Asli Daerah (PAD)
—
Surplus / Defisit APBD
—
SiLPA
—
Peta Indikator Fiskal Daerah
Klik/hover wilayah untuk detail
Indikator fiskal nasional dan kelompok pulau
Nilai per pulau dihitung sebagai agregat komponen APBD · Tahun —
🏦
Rasio Kemandirian Keuangan Daerah (%)
PAD ÷ Pendapatan Transfer
Nasional—
Sumatera—
Jawa—
Kalimantan—
Bali-Nusra—
Sulawesi—
Maluku-Papua—
📈
Rasio Ketergantungan Transfer (%)
Pendapatan Transfer ÷ Total Pendapatan
Nasional—
Sumatera—
Jawa—
Kalimantan—
Bali-Nusra—
Sulawesi—
Maluku-Papua—
⚖
Derajat Desentralisasi Fiskal (%)
PAD ÷ Total Pendapatan
Nasional—
Sumatera—
Jawa—
Kalimantan—
Bali-Nusra—
Sulawesi—
Maluku-Papua—
🎯
Rasio Efektivitas PAD (%)
Realisasi PAD ÷ Anggaran PAD
Nasional—
Sumatera—
Jawa—
Kalimantan—
Bali-Nusra—
Sulawesi—
Maluku-Papua—
Ringkasan modul dashboard
📊
Analisis Fiskal
Kartu indikator utama, ringkasan dan peta wilayah, kemandirian fiskal, ketergantungan transfer, derajat desentralisasi fiskal, realisasi APBD, efektivitas PAD, serta kapasitas fiskal daerah.
🏫
Belanja Fungsi
Komposisi dan serapan belanja pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan fungsi lain.
📋
Perbandingan Daerah
Tabel dan peta perbandingan antardaerah disertai konteks kapasitas fiskal.
ℹ
Bantuan
Panduan penggunaan dashboard, cara membaca visual, fitur ekspor, serta kanal kontak dan saran.
Apa itu FisKaDa
FisKaDa (Fiskal dan Kinerja Daerah) adalah dashboard transparansi fiskal daerah yang menyajikan profil dan analisis kinerja keuangan pemerintah daerah di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, berbasis data Portal SIKD DJPK dan Peta Kapasitas Fiskal Daerah. Dashboard ini dikembangkan sebagai instrumen transparansi publik agar masyarakat, akademisi, dan pemangku kepentingan dapat memahami postur APBD, indikator kemandirian dan ketergantungan fiskal, realisasi anggaran, serta arah penggunaan belanja daerah secara ringkas dan mudah dibandingkan.
Tujuan penggunaan FisKaDa
Informasi dirancang untuk kebutuhan pengguna yang berbeda, tanpa menjadikan dashboard sebagai pengganti dokumen resmi, proses audit, atau penilaian kebijakan yang lebih mendalam.
♙
Untuk Masyarakat
Membantu masyarakat memahami dari mana pendapatan daerah berasal, bagaimana APBD digunakan, seberapa besar realisasinya, serta bagaimana kondisi fiskal daerah dibandingkan dengan wilayah lain melalui visual yang ringkas dan mudah dibaca.
⌂
Untuk Akademisi & Peneliti
Menyediakan data fiskal terstruktur, indikator, tren waktu, peta, dan tabel perbandingan sebagai bahan eksplorasi, analisis deskriptif, serta pengembangan penelitian mengenai kinerja keuangan pemerintah daerah.
▥
Untuk Pemerintah Daerah
Mendukung pemantauan postur dan realisasi APBD, posisi kemandirian dan ketergantungan fiskal, efektivitas PAD, kapasitas fiskal, serta perbandingan antardaerah untuk membantu mengidentifikasi area yang memerlukan perhatian lebih lanjut.
⚖
Untuk Pengawas & Auditor
Mendukung penelaahan awal atas pola anggaran dan realisasi, ketergantungan transfer, efektivitas PAD, serta perbedaan antardaerah sehingga area yang tidak biasa atau berisiko dapat lebih cepat diidentifikasi untuk dianalisis lebih lanjut.
Sumber data dashboard
FisKaDa menggabungkan data fiskal dan data wilayah yang diperlukan untuk menyusun ringkasan, indikator, tren, peta tematik, dan perbandingan daerah.
▣ Portal SIKD DJPK Kementerian Keuangan
Portal Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKD) DJPK digunakan sebagai sumber utama data APBD tahun 2016–2025, meliputi anggaran dan realisasi pendapatan, belanja, pembiayaan, serta belanja menurut fungsi sesuai ketersediaan periode dan akun pada sumber data.
Data APBDAnggaran dan realisasi pendapatan, belanja, serta pembiayaan.
Belanja per FungsiAnggaran dan realisasi belanja menurut fungsi untuk analisis layanan.
Periode RealisasiData tahunan sebagai basis utama; data triwulanan 2023–2025 sebagai pelengkap pemantauan.
Peta Kapasitas Fiskal Daerah
Digunakan untuk menampilkan kategori kapasitas fiskal resmi Kementerian Keuangan sebagai konteks dalam membaca indikator fiskal daerah. Kategori tidak dihitung ulang oleh dashboard.
Badan Pusat Statistik (BPS)
Digunakan untuk melengkapi ringkasan karakteristik wilayah, seperti jumlah penduduk dan luas wilayah.
Cakupan data
2016–2025Rentang tahun utama
38Provinsi
514Kabupaten/Kota
2023–2025Data triwulanan
Catatan: ketersediaan data dapat berbeda menurut tahun, akun, dan jenis data. Data realisasi tahun berjalan bersifat running data dan dapat berbeda dari LKPD audited karena perbedaan waktu pembaruan dan cut-off.
Alur metodologi pengembangan dan analisis
Alur berikut disesuaikan dengan proses penelitian FisKaDa: kebutuhan pengguna dikaji terlebih dahulu, data kemudian dibersihkan dan dihitung menjadi indikator, lalu prototipe divisualisasikan serta dievaluasi secara iteratif.
01
Studi Literatur & Regulasi
Mengkaji konsep transparansi fiskal, indikator kinerja keuangan daerah, kapasitas fiskal, APBD, serta ketentuan yang relevan sebagai dasar rancangan dashboard.
02
Observasi Portal SIKD
Mengidentifikasi kondisi aktual penyajian informasi, ketersediaan data, keterbacaan, interpretabilitas, komparabilitas, dan kebutuhan visualisasi pada sumber data yang ada.
03
Analisis Kebutuhan Pengguna
Mengolah hasil kuesioner 100 responden serta wawancara dengan DJPK, Kementerian Dalam Negeri, dan Pemerintah Daerah untuk mengidentifikasi indikator, informasi, dan fitur yang paling dibutuhkan pengguna.
04
Penentuan Indikator & Fitur
Melakukan triangulasi antara literatur/regulasi, hasil observasi, ketersediaan data, kuesioner, dan wawancara untuk menetapkan indikator serta struktur modul dashboard.
05
Pengumpulan & Preprocessing Data
Mengumpulkan data 2016–2025, membersihkan duplikasi dan nilai kosong, menyeragamkan nama/kode wilayah dan akun, serta menggabungkan data anggaran dan realisasi agar siap dianalisis.
06
Perhitungan & Validasi Indikator
Menghitung rasio fiskal berdasarkan komponen APBD, menerapkan kategori interpretasi yang digunakan, dan memeriksa konsistensi hasil antarperiode serta antarwilayah.
07
Pembangunan Prototipe Dashboard
Menyajikan hasil dalam kartu KPI, peta interaktif, grafik tren, tabel detail, ranking, filter wilayah/tahun, serta fitur ekspor agar informasi dapat dieksplorasi secara langsung.
08
Pengujian & Penyempurnaan
Melakukan pengujian fungsi (black-box testing) dan evaluasi pengguna/UAT, kemudian memperbaiki prototipe berdasarkan temuan pengujian dan umpan balik pengguna.
Rumus dan kategori indikator
Rumus dan kategori berikut menjadi acuan yang sama pada peta indikator di Beranda dan seluruh submenu Analisis Fiskal agar warna serta interpretasi tidak berubah antarhalaman.
Rasio Kemandirian Fiskal
Semakin tinggi semakin mandiri
PAD ÷ Pendapatan Transfer × 100%
Membandingkan kemampuan daerah memperoleh PAD dengan pendapatan transfer yang diterima. Kategori pola hubungan membantu membaca seberapa besar peranan pemerintah pusat relatif terhadap kemampuan fiskal daerah.
Instruktif0–25% · kemampuan keuangan rendah sekali
Peranan pemerintah pusat masih dominan; daerah belum mampu melaksanakan otonomi secara finansial.
Konsultatif>25–50% · kemampuan keuangan rendah
Campur tangan pemerintah pusat mulai berkurang dan hubungan lebih banyak bersifat konsultatif.
Partisipatif>50–75% · kemampuan keuangan sedang
Peranan pemerintah pusat semakin berkurang seiring meningkatnya kemandirian fiskal daerah.
Delegatif>75% · kemampuan keuangan tinggi
Campur tangan pemerintah pusat relatif kecil karena daerah lebih mampu membiayai urusan otonominya.
Rasio Ketergantungan Transfer
Semakin rendah semakin mandiri
Pendapatan Transfer ÷ Total Pendapatan × 100%
Menunjukkan proporsi total pendapatan daerah yang bersumber dari transfer.
Rendah · <40%Sedang · 40–60%Tinggi · >60–80%Sangat tinggi · >80%
Derajat Desentralisasi Fiskal
Semakin tinggi semakin baik
PAD ÷ Total Pendapatan × 100%
Mengukur kontribusi PAD terhadap total pendapatan daerah.
Sangat kurang · 0–10%Kurang · 10,01–20%Sedang · 20,01–30%Cukup · 30,01–40%Baik · 40,01–50%Sangat baik · >50,01%
Efektivitas PAD
Dibaca terhadap target
Realisasi PAD ÷ Anggaran PAD × 100%
Mengukur capaian realisasi PAD terhadap target PAD yang ditetapkan dalam anggaran.
Belum mencapai target · <100%Sesuai target · =100%Melampaui target · >100%
Realisasi Pendapatan / Belanja
Realisasi ÷ Anggaran × 100%
Mengukur persentase capaian realisasi terhadap anggaran pada periode yang dipilih. Nilai dibaca bersama komponen pembentuk dan perkembangan periodenya.
Rasio SiLPA terhadap Belanja
SiLPA ÷ Total Belanja × 100%
Menunjukkan besarnya sisa lebih pembiayaan anggaran dibandingkan total belanja daerah. Pada dashboard, SiLPA juga ditampilkan sebagai nilai dan tren nominal.
Kapasitas Fiskal Daerah
Klasifikasi resmi
Kategori kapasitas fiskal mengikuti Peta Kapasitas Fiskal Daerah Kementerian Keuangan dan tidak dihitung ulang dengan ambang buatan dashboard.
Sangat rendahRendahSedangTinggiSangat tinggi
Catatan interpretasi: indikator tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan kualitas pengelolaan keuangan daerah hanya dari satu rasio. Pembacaan sebaiknya mempertimbangkan tren, struktur APBD, karakteristik wilayah, kapasitas fiskal, dan indikator lain secara bersama-sama.
Indikator utama kinerja fiskal — Provinsi Jawa Timur
Rasio kemandirian keuangan daerah
—
—
Rasio ketergantungan transfer
—
—
Derajat desentralisasi fiskal
—
—
Rasio efektivitas PAD
—
—
Peta kapasitas fiskal kabupaten/kota
Warna wilayah mengikuti kategori kapasitas fiskal dari database pada tahun terpilih.
Hover/klik wilayah untuk detail
Ringkasan Wilayah
Kab/Kota
—
Provinsi
—
Kode Provinsi
—
Kode Kab/Kota
—
Jumlah Penduduk (—)
—
Luas Wilayah
—
Total Pendapatan
—
Total Belanja
—
Surplus/Defisit
—
Total Pembiayaan (Neto)
—
SiLPA Tahun Berjalan (t)
—
Kategori Kapasitas Fiskal
—
Catatan: data realisasi berjalan bersifat running data dan dapat berbeda dari LKPD audited. Tahun dan wilayah mengikuti filter dashboard. SiLPA yang ditampilkan adalah SiLPA tahun berjalan (t), dihitung sebagai Surplus/Defisit + Pembiayaan Neto. SiLPA tahun sebelumnya (t−1) yang digunakan pada tahun t merupakan bagian dari penerimaan pembiayaan, sehingga konsepnya berbeda dari SiLPA tahun berjalan.
Tren pendapatan, belanja, dan pembiayaan
Pilih tahun pada tombol filter di pojok grafik · maksimal 10 tahun.
Pilih tahun yang ingin ditampilkan (maks. 10).
PendapatanBelanjaPembiayaan neto
Pendapatan dan belanja seluruh kabupaten/kota
PendapatanBelanja
Kemandirian Fiskal
Menilai kemampuan pemerintah daerah membiayai kebutuhan daerah melalui PAD dibandingkan pendapatan transfer. Tampilan menggabungkan tren, peta tematik, tabel detail, dan ranking kabupaten/kota agar posisi setiap daerah dapat dibaca dalam konteks provinsinya.
Rumus utamaPAD ÷ Pendapatan Transfer × 100%Semakin tinggi rasio, semakin besar kemampuan daerah membiayai kebutuhan fiskalnya dari PAD.
Rasio Kemandirian——
Total PAD—Realisasi tahun terpilih
Pendapatan Transfer—Transfer/TKDD
Pola Hubungan——
Tren rasio kemandirian fiskal
Daerah terpilih · 2016–2025
Pilih maksimal 10 tahun.
Interpretasi singkat
Interpretasi akan menyesuaikan pola tren daerah dan tahun yang dipilih.
Peta Kemandirian Fiskal
Kabupaten/kota diwarnai menurut pola hubungan fiskalnya.
Hover/klik wilayah untuk detail
Ingin mengetahui penjelasan lebih lanjut terkait masing-masing pola hubungan?
Mengukur proporsi pendapatan transfer terhadap total pendapatan daerah. Submenu menampilkan tren daerah terpilih, komposisi pendapatan, peta ketergantungan dalam provinsi, serta ranking kabupaten/kota.
Rumus utamaPendapatan Transfer ÷ Total Pendapatan × 100%Semakin tinggi rasio, semakin besar porsi pendapatan yang berasal dari transfer.
Ketergantungan Transfer——
Total Pendapatan—tahun terpilih
Total Transfer—komponen pendapatan
Total PAD—pendapatan asli daerah
Komposisi pendapatan
PAD, transfer, dan lain-lain pendapatan
Tren ketergantungan transfer
Daerah terpilih · 2016–2025
Pilih maksimal 10 tahun.
Catatan interpretasi
Ketergantungan transfer perlu dibaca bersama kapasitas fiskal dan kebutuhan layanan. Daerah dengan transfer tinggi belum tentu berkinerja buruk, terutama jika wilayah luas, penduduk tersebar, basis PAD terbatas, atau kebutuhan layanan publik relatif besar.
Peta Ketergantungan Transfer
Warna menunjukkan kategori rasio transfer terhadap total pendapatan.
Hover/klik wilayah untuk detail
Ketergantungan transfer dalam provinsi
Seluruh kabupaten/kota dalam provinsi
Pilih 1 tahun untuk perbandingan kabupaten/kota.
Rendah · <40%Sedang · 40–60%Tinggi · >60–80%Sangat tinggi · >80%
Derajat Desentralisasi Fiskal
Mengukur kontribusi PAD terhadap total pendapatan daerah. Tampilan menggabungkan tren, struktur PAD, peta kategori kemampuan keuangan, tabel perhitungan, dan ranking kabupaten/kota.
Rumus utamaPAD ÷ Total Pendapatan Daerah × 100%Kategori: sangat kurang, kurang, sedang, cukup, baik, dan sangat baik.
Derajat Desentralisasi——
Total PAD—tahun terpilih
Total Pendapatan—tahun terpilih
Kategori—kemampuan keuangan
Tren derajat desentralisasi fiskal
Daerah terpilih · 2016–2025
Pilih maksimal 10 tahun.
Struktur PAD
Komponen pembentuk PAD tahun terpilih
Peta Derajat Desentralisasi Fiskal
Kabupaten/kota diwarnai berdasarkan kategori DOF/DDF.
Sangat kurang · 0–10%Kurang · 10,01–20%Sedang · 20,01–30%Cukup · 30,01–40%Baik · 40,01–50%Sangat baik · >50,01%
Realisasi APBD
Menampilkan perkembangan realisasi pendapatan, belanja, pembiayaan, dan SiLPA secara lebih rinci. Setiap grafik dapat ditampilkan tahunan atau triwulanan, dengan pilihan tahun dan opsi ekspor/layar penuh.
Rumus capaianRealisasi ÷ Anggaran × 100%Mode triwulanan tersedia untuk 2023–2025 sesuai ketersediaan data pemantauan.
SiLPA Tahun Berjalan (t)—Surplus/Defisit + Pembiayaan Neto
Tren realisasi pendapatan
Rincian PAD, pendapatan transfer, dan lain-lain pendapatan
Tren realisasi belanja
Rincian belanja pegawai, barang dan jasa, modal, dan belanja lainnya
Tren realisasi pembiayaan
Rincian penerimaan dan pengeluaran pembiayaan
Tren SiLPA
SiLPA tahun berjalan (t) · Surplus/Defisit + Pembiayaan Neto
Anggaran vs realisasi
Capaian tahun terpilih
—
—
—
Catatan data
Mode tahunan dapat menampilkan maksimal 10 tahun (2016–2025). Mode triwulanan dibatasi pada 2023–2025. Untuk publikasi resmi akhir tahun gunakan data tahunan/LKPD audited; data triwulanan ditampilkan sebagai running data pemantauan.
Efektivitas PAD
Menilai kemampuan pemerintah daerah merealisasikan PAD dibandingkan target anggaran. Peta, tabel, dan ranking membantu melihat posisi seluruh kabupaten/kota dalam provinsi yang sama.
Rumus utamaRealisasi PAD ÷ Anggaran PAD × 100%<100% belum mencapai target, =100% sesuai target, >100% melampaui target.
Efektivitas PAD——
Anggaran PAD—target tahun terpilih
Realisasi PAD—capaian tahun terpilih
Selisih target—realisasi - anggaran
Gauge efektivitas PAD
Posisi capaian terhadap target
—
—
Anggaran PAD vs Realisasi PAD
Perbandingan kab/kota dalam provinsi
Anggaran PADRealisasi PAD
Peta Efektivitas PAD
Kabupaten/kota diwarnai menurut capaian terhadap target PAD.
Hover/klik wilayah untuk detail
Tabel detail indikator efektivitas PAD
Seluruh kabupaten/kota dalam provinsi terpilih
Pilih 1 tahun. Tabel dapat digulir.
Tahun
Daerah
Anggaran PAD
Realisasi PAD
Efektivitas
Kategori
Ranking kab/kota — efektivitas PAD
Seluruh kabupaten/kota dalam provinsi
Pilih 1 tahun untuk ranking.
Belum mencapai target · <100%Sesuai target · =100%Melampaui target · >100%
Kapasitas Fiskal Daerah
Menampilkan posisi kapasitas fiskal kabupaten/kota dalam provinsi terpilih. Kategori digunakan sebagai konteks saat membaca indikator kemandirian, ketergantungan, desentralisasi, dan efektivitas.
KlasifikasiSangat rendah · Rendah · Sedang · Tinggi · Sangat tinggiPeta dan distribusi dihitung untuk kabupaten/kota dalam provinsi yang dipilih.
Sangat rendah—daerah
Rendah—daerah
Sedang—daerah
Tinggi—daerah
Sangat tinggi—daerah
Peta Kapasitas Fiskal Daerah
Kabupaten/kota diwarnai sesuai lima kategori kapasitas fiskal.
Hover/klik wilayah untuk detail
Distribusi kategori
Jumlah kabupaten/kota per kategori dalam provinsi
Ringkasan kapasitas fiskal
—
Komposisi belanja per fungsi - pilih wilayah dan tahun
Catatan: nama fungsi mengikuti klasifikasi yang tersedia pada tahun terpilih. Untuk grafik tren lintas tahun, label yang berubah namun memiliki makna yang sama dinormalisasi agar dapat dibandingkan; tahun ketika suatu fungsi tidak tersedia ditandai sebagai N/A, bukan dianggap bernilai nol.
Anggaran vs realisasi per fungsi
Miliar rupiah
AnggaranRealisasi
Tabel serapan belanja per fungsi
Daerah dan tahun terpilih
Fungsi
Anggaran (miliar)
Realisasi (miliar)
Serapan
Tren belanja per fungsi
Tren belanja — Pendidikan
Anggaran dan realisasi · 2016–2025
AnggaranRealisasi
Rentang maksimum 10 tahun. Tahun ketika fungsi yang dipilih tidak tersedia ditampilkan sebagai N/A, bukan nol.
Peta perbandingan — Rasio kemandirian fiskal
Tingkat provinsi · 2024
Hover wilayah untuk detail
Tabel perbandingan
Daerah terpilih
—
1 / 1
Catatan perbandingan: nilai indikator perlu dibaca bersama kategori kapasitas fiskal, struktur APBD, karakteristik wilayah, dan tren antartahun. Perbedaan nilai tidak secara otomatis menunjukkan kualitas pengelolaan keuangan yang lebih baik atau lebih buruk. Khusus untuk Provinsi DKI Jakarta hanya menyediakan data tingkat provinsi tanpa membaginya kedalam wilayah kabupaten/kota administrasi.